Wisata Palembang 2013
Jejak Kenangan di Palembang 2013: Kota Pempek yang Penuh Pesona
Kalau ngomongin Palembang tahun 2013, pasti langsung kebayang suasana kota yang masih adem, belum seramai sekarang. Saat itu, Palembang lagi bersiap-siap jadi tuan rumah Asian Games 2018, jadi pembangunan mulai terasa tapi belum bikin macet parah. Suasananya masih asyik buat dijelajahi, apalagi buat yang suka wisata sejarah dan kuliner.
Salah satu ikon yang nggak boleh dilewatkan ya Jembatan Ampera. Tahun 2013, jembatan ini masih jadi primadona. Warna merahnya yang mencolok, apalagi kalau dilihat pas sore hari menjelang magrib, sinar matahari jatuh tepat di atas Sungai Musi, bikin pemandangan makin dramatis. Banyak wisatawan lokal yang duduk-duduk di taman sekitar sambil menikmati angin sungai. Yang seru, waktu itu kita masih bisa naik perahu motor keliling Sungai Musi dengan tarif yang murah banget, cuma sepuluh ribu perak buat keliling bentar. Sambil naik perahu, kita bisa liat langsung kehidupan warga tepi sungai yang khas Rumah Panggungnya.
Ngomong-ngomong soal sejarah, Benteng Kuto Besak (BKB) juga jadi tempat favorit. Tahun 2013, BKB belum terlalu ramai pengunjung. Tempat ini cocok buat yang suka foto-foto estetik ala-ala Eropa, tapi dengan sentuhan Melayu. Arsitektur benteng peninggalan Belanda ini kokoh banget, dan kalau kita jalan-jalan di pelatarannya, kadang ada pertunjukan musik tradisional atau pameran seni. Apalagi di malam hari, lampu-lampu temaram bikin suasana jadi romantis. Banyak pasangan muda yang duduk di bangku taman sambil ngobrol ngalor-ngidul.
Nggak lengkap rasanya ke Palembang tanpa mampir ke Kampung Arab. Di tahun 2013, kawasan ini masih terasa kental dengan nuansa religius dan budaya. Lorong-lorongnya sempit, tapi penuh dengan warna-warni toko kain, parfum, dan aksesoris khas Timur Tengah. Yang paling aku suka, kita bisa nemuin jajanan khas seperti martabak har, roti maryam, dan tentu saja teh tarik yang legit. Suasananya adem, seperti berada di negeri dongeng seribu satu malam.
Tapi yang paling nempel di ingatan adalah soal pempek. Tahun 2013, belum ada kafe atau restoran besar yang jual pempek ala modern. Kita harus nyari ke tempat-tempat legendaris seperti Pempek Pak Raden atau Pempek 28 yang sudah puluhan tahun berjaya. Aroma pempek yang digoreng langsung di depan mata, lengkap dengan kuah cuko yang pedas manis, bau ebi, dan irisan timun. Rasanya bikin kangen sampai sekarang. Dulu, seporsi pempek kapal selam cuma Rp 5.000-Rp 7.000, dengan ukuran yang gede. Saking enaknya, kadang beli tiga porsi langsung. Ditambah minum es kacang merah atau es campur, dijamin perut kenyang dan hati senang.
Buat yang suka oleh-oleh, di tahun 2013, kawasan 16 Ilir adalah surganya. Banyak toko kue khas Palembang, seperti kue lapis, bolu kojo, dan kue talam. Sayangnya, saat itu belum begitu banyak yang jual dalam kemasan kekinian. Tapi justru itu yang bikin autentik. Beli kue langsung dari penjual yang ramah, sambil ngobrol soal resep turun-temurun.
Kalau dibilang, wisata Palembang tahun 2013 mungkin lebih sederhana. Nggak banyak wahana mewah atau spot foto instagramable. Tapi justru di situlah pesonanya. Kita bisa menikmati perjalanan dengan tenang, tanpa harus antre panjang atau berdesak-desakan. Interaksi dengan penduduk lokal terasa lebih hangat, dan kita bisa merasakan denyut kehidupan kota yang jujur.
Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, banyak yang berubah. Tapi kenangan akan Palembang 2013 tetap mengendap manis. Kota yang kaya sejarah, penuh rasa, dan bikin siapa pun ingin balik lagi. Mungkin suatu saat, kita perlu menyusuri ulang kenangan itu dengan kamera di tangan, dan hati yang terbuka.
