Monday, June 1, 2026
Sejarah

Benteng Kuto Besak: Saksi Bisu Sejarah Pertahanan Palembang

### Benteng Kuto Besak: Saksi Bisu Sejarah Pertahanan Palembang

Di jantung Kota Palembang, berdiri megah sebuah benteng yang tak hanya menjadi ikon sejarah, tetapi juga saksi bisu perjuangan dan strategi pertahanan Kesultanan Palembang Darussalam. Namanya Benteng Kuto Besak. Lebih dari sekadar bangunan tua, benteng ini menyimpan kisah heroik, intrik politik, dan arsitektur pertahanan yang brilian. Mari kita telusuri jejak sejarahnya yang masih terasa hingga kini.

#### Awal Mula Pembangunan: Benteng Pertahanan Modern di Zamannya

Benteng Kuto Besak dibangun pada tahun 1780 hingga 1797 di masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin I (atau dikenal juga dengan gelar Pangeran Adi Kesumo). Berbeda dengan benteng-benteng sebelumnya yang terbuat dari kayu dan tanah, Kuto Besak dirancang sebagai benteng batu bata yang kokoh, mengadopsi teknologi benteng Eropa namun tetap dengan sentuhan lokal. Pembangunannya merupakan respons atas ancaman kolonial Inggris dan Belanda yang kala itu mulai memperebutkan pengaruh di Sumatera Selatan.

Lokasinya yang strategis—tepat di tepi Sungai Musi—menjadikan benteng ini sebagai pusat pertahanan dan pemerintahan. Tak hanya berfungsi sebagai markas militer, Kuto Besak juga menjadi istana kediaman sultan beserta keluarganya. Dindingnya yang tebal, setinggi 15 meter dan dilengkapi dengan meriam-meriam besar, mampu menghalau serangan dari sungai maupun darat.

#### Arsitektur yang Memukau: Perpaduan Budaya dan Pertahanan

Benteng Kuto Besak memiliki luas sekitar 5 hektar dengan bentuk persegi panjang. Temboknya terbuat dari bata merah dan kapur, diikat dengan campuran putih telur, kapur, dan pasir—teknik tradisional yang membuatnya sangat kokoh. Di setiap sudut benteng terdapat bastion (perkuatan pertahanan) yang memungkinkan pengawasan 360 derajat. Pintu utama menghadap ke Sungai Musi, dilengkapi dengan jembatan kayu angkat (drawbridge) yang bisa ditarik saat darurat.

Salah satu ciri khasnya adalah penggunaan atap sirap dan ornamen-ornamen khas Palembang seperti ukiran flora dan kaligrafi Arab. Ini menunjukkan bahwa Kuto Besak bukan hanya benteng militer, tetapi juga simbol peradaban Islam yang maju. Di dalam kompleks, terdapat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.