Candi Bumi Ayu

candi bumi ayu 2Candi Bumi Ayu Desa Bumi Ayu, Kecamatan Tanah Abang, kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan – Kalau sedang membahas candi, pasti ingatan kita bakal melesat ke duo candi kita yang terkenal, Candi Prambanan dan Borobudur. Konon, karena persebaran agama Hindu dan Budha yang kuat dan cepat di tanah Jawa, serta lantaran kedua tempat peribadatan ini tidak cukup menampung umat, maka banyak sekali kita temukan candi candi di dataran tanah Jawa. Kini, candi candi ini selain sebagai tempat peribadatan bagi umat Hindu atau Budha, juga sebagai cagar budaya yang dilindungi, serta wahana wisata sejarah yang menyenangkan.

Namun, keberadaan candi tak hanya di Pulau Jawa saja. Ajaran Hindu yang tersebar hingga pulau Sumatera berdampak pada bangunan candi yang bisa ditemukan di pulau ini. Salah satunya adalah candi Bumi Ayu yang terletak di Desa Bumi Ayu, Kecamatan Tanah Abang, kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Letak desa ini kira kira berjarak 300 Km dari kota Palembang. Candi ini merupakan satu-satunya Kompleks Percandian di Sumatera Selatan.
candi bumi ayu
Bumi Ayu dikenal dengan situs candi-candi peninggalan Hindu dari aliran Siwaisme. Pada situs candi ini, terdapat berbagai macam arca seperti Siwa Mahaguru, Nandi, Agastya serta Narawahana. Mereka dipercaya sebagai dewa oleh umat Hindu. Selain itu, terdapat juga peti peripih dan komponen-komponen hiasan candi yang kental dengan simbol Hindu. Simbol Hindu pada bangunan candi terlihat pada komponen bangunan atapnya yang dinamai ratna. Pada beberapa arca seperti Siwa Mahadewa, Nandi dan Agastya, simbol Hindu diperlihatkan dengan sebuah hiasan yang dinamakan buah keber.
Sampai saat ini sudah ditemukan sebelas candi yang tersebar di wilayah seluas 76 hektar perkebunan karet, yang dikelilingi oleh anak sungai Musi, dengan batas terluar berupa 7 (tujuh) buah sungai parit yang sebagian sudah mengalami pendangkalan. Dari penggalian para arkeolog, bisa disimpulkan kalau komplek candi Bumi Ayu ini merupakan komplek candi Hindu terbesar di luar Jawa, merupakan tiruan Candi Prambanan di Jawa Tengah yang berdasarkan penelitian didirikan sekitar tahun 819 Saka atau 897 Masehi.
Masyarakat asli Bumi Ayu sendiri sebenarnya tidak mengenal istilah candi sebelum ada kegiatan penelitian, perlindungan, dan pemeliharaan di situs bersejarah ini. Kata candi diambil dari bahasa Jawa sebagai pengganti kata kuil dari agama Hindu atau Budha. Tapi, orang Jawa yang mewarisi puluhan candi-candi itu pun tidak mengenal lagi pengertian dan fungsi candi yang sebenarnya. Mereka menganggap candi sebagai bangunan pemakaman atau penanaman abu jenazah, bukan kuil dewa Hindu atau Budha.
Candi candi di Bumi ayu merupakan monumen yang telah ditinggalkan oleh masyarakat yang dulu mempercayai ajaran agama ini. Candi tersebut ditinggalkan mungkin seiring dengan terhimpitnya kekuatan politik Hindu oleh Islam pada sekitar abad ke-16. Kemudian candi-candi itu rusak dan terkubur tanah hingga ditemukan kembali pada tahun 1864. Tak hanya fisik candi yang terkubur, penduduk asli Desa Bumi Ayu pun tidak mengenal dengan baik struktur candi dan fungsi candi itu berdiri sebenarnya.
Pemerintah berupaya keras untuk melakukan pemugaran di tubuh candi ini. Pemkab Muara Enim juga berperan untuk pembangunan Jalan, pembebasan tanah dan pembangunan gedung museum lapangan. Candi Bumi Ayu pada saat ini masih dalam proses pengkajian dan pemugaran, sehingga belum banyak informasi yang dapat diketahui, sedangkan informasi tertulis dari Candi tersebut masih dalam proses dipahami oleh Tim Pengkajian Peninggalan Purbakala Propinsi Sumatera Selatan.
Candi Bumi Ayu
Rate this post

users rated 5 / 5 based on 24

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *