Mencari Korban Lewat Job Fair
Jaring Korban Lewat Job Fair – Pelamar diminta Uang Pelicin, Sejumlah perusahaan diduga memanfaatkan even job fair yang kerap diselenggarakan ntstansi pemerintah maupun pihak swasta untuk meraup keuntungan. Mereka menjaring sebanyak mungkin pelamar, bahkan ada beberapa diantaranya dimintai sejumlah uang dengan alasan agar diterima.
Beberapa orang pencari kerja yang nyaris menjadi korban mengungkapkan hal itu kepada Sripo, Kamis (19/ 3) lalu. Seperti dikatakan Irma (24), warga Kalidoni, Palernbang. Alumnus S1 salah satu perzuruan tinggi swasta di Bumi Sriwijaya ini mengaku pernah melamar ke beberapa perusahaan yang membuka stan pada even job fair tahun lalu. Beberapa hari setelah job fair, berakhir, ia mendapat telepondari salah satu perusahaan tempat ia melamar. “Saya diminta datang ke kantomya di ruko-ruko daerah JI Veteran. Setelah wawancara seperlunya, saya dinyatakan diterima, kalau bisa kata dia, saya siapkan Rp 2 juta,” kata Inna.
Heran bercampur curiga, Irma menanya kan perihal pekerjaanya. Namun pihak perusahaan tersebut mengalakan akan menjelaskannya setelah menerima uang yangdiminta. Belum lama ini ia sempat lewat di kawasan itu, dan melihat ruko tersebut sudah tidak lagi ditempati perusahaan tersebut.
“Saya curiga dong, masa melamar kerja malah dipintai uang. Mana kerjaannya gak jelas. Saya bilang sama dia, saya pulang dulu untuk menyiapkan uangnya. Padahal dalam hati saya, maaf-maaf saja. Masih untung gak saya laporkan ke polisi,” ujamya.
Hampir serupa dengan pengala man Agustina (23), alumnus salah satu Perguruan Tinggi swasta di Palembang. la mencurigai beberapa perusahaan yang menjadilcan job fair sebagai tempat mencari uang. “Saya dan teman saya sering lihat perusahaan itu, setiap ada job fair selalu ada,” katanya.
Agustina bercerita, pernah memasukkan lamaran ke perusa haan tersebut, dan awalnya ia percaya karena perusahaan itu ikut dalam job fair. Keesokan harinya, ia dipanggildandirninta dathrtg ke kantor tersebut. “Nggak jelas infinya, kita mau kerja apa. Kantomyajuga kayak di ruko-ruko gitu, tanpa plang nama. Jam kerjanya dari pagi sampai sore. Saya hanya ikut interview, karena curiga setelah itunggalcdatang lagi,” katanya.
Pihak perusahaan tersebut menelponnya dan menanyakan alasan tidak datang lagi. “Gigih sekali nyuruh lcita kerja, dan gak jelas juga. Malcanya nggak pernah saya ladeni lagi,” ujamya.
Berbeda dengan pengalaman Heri (25). Ia juga curiga ada ansur penipuan lain harus diantisipast pencaker dalam penyelenggaraan job fair. la men ,Osal~saat itu ada salah satu instansi yang menyelenggarakan job fair. la pun memasuldcan lima berIcas lamaranantaralain ke bank, produk makanan, dan minimarket waralaba. Dalam larrun waktu sebulan tak ada satu pun yang memanggilnya.
“Itu terbukti dengan adanya infonnasi rekruilmenlagi dari beberapa perusahaan yang ada di job fair waktu itu, yang waktunya hanya berselang sebulan dari penyelenggaraan job fair sebelumnya. Saya pikir, apa ini memang karena tidak ada pelamar yang memenuhi kualifikasi atau memang masih kekurangan karyawanyang notabene harus lulusan tufiven sitas terkemuka,” ujamya.
Rasa kecewa itu muncul saat menyadari jika ia yang merupakan salah satu pelamar di perusahaan tersebut tidak pemah dipanggil. “Ba nyak dugaan sih, apa karena saya hanya lulusan swasta, yang hanya dianggap sebelah mata atau mereka memang membutuhkan lulusan universitas lain hanya teralcreditasi,” keluhnya.
Sejak itulah ia tak mempercayai lagi job fait Heri menambahlcan, ia tidak sendiri. Banyak temannya yang lain mengalami hal serupa. “Jangan-jangan job fair ini hanya mencari keuntungan dari pelamar yang hampir ribuan datang dari berbagai Perguruan Tmggi, kan Iumayan tuh kalau sekali masuk bayar Rp 25-30 ribu. Yang kesalnya itu di sana, kita mau kerja eh malah dikerjai. Mau cari uang, malah keluar uang,” unglcapnya kesal. Penga kuan dari ketiga sumber ini tentu tidak bisa begitu saja digeneralisir. Perlu pembuktian yang jelas mengenaikeluhantersebut Sementara masing-masing pihak perusahaan terkait, belum bisa dikonfirmasi karena tidak terlacak keberadaannya. (er9)
