Sejarah Palembang: Dari Kerajaan Sriwijaya hingga Menjadi Kota Modern
# Sejarah Palembang: Dari Kerajaan Sriwijaya hingga Menjadi Kota Modern
Palembang, ibu kota Provinsi Sumatera Selatan, adalah salah satu kota tertua di Indonesia yang menyimpan jejak peradaban gemilang. Sejarah panjang kota ini bermula dari masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya hingga transformasinya menjadi pusat metropolitan modern yang dinamis. Artikel ini akan mengupas perjalanan sejarah Palembang secara kronologis, mulai dari era kerajaan bahari terbesar di Nusantara hingga perkembangannya sebagai kota industri dan destinasi wisata masa kini.
Masa Kejayaan Sriwijaya (Abad ke-7 hingga ke-13)
Palembang diyakini sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya, salah satu kerajaan maritim terkuat di Asia Tenggara. Berdasarkan prasasti Kedukan Bukit (682 M) yang ditemukan di tepi Sungai Batanghari, Sriwijaya telah berdiri sejak abad ke-7. Kerajaan ini menguasai jalur perdagangan Selat Malaka dan Selat Sunda, menjadikan Palembang sebagai pelabuhan internasional yang ramai dikunjungi pedagang dari India, Tiongkok, dan Arab.
Bukti arkeologis seperti Prasasti Talang Tuo (684 M) dan Prasasti Kota Kapur menunjukkan bahwa Sriwijaya bukan hanya pusat perdagangan, tetapi juga pusat penyebaran agama Buddha. Candi-candi seperti Candi Tingkir dan Candi Bumiayu menjadi sakbis perkembangan spiritual masa itu. Namun, pada abad ke-13, Sriwijaya mulai melemah akibat serangan Kerajaan Chola dari India dan tekanan kerajaan-kerajaan lokal, hingga akhirnya runtuh.
Era Kesultanan Palembang (Abad ke-16 hingga ke-19)
Setelah runtuhnya Sriwijaya, Palembang mengalami kekosongan kekuasaan hingga munculnya Kesultanan Palembang Darussalam pada pertengahan abad ke-16. Sultan pertama, Sultan Mahmud Badaruddin I (1659-1704), membangun kembali kota ini sebagai pusat perdagangan lada dan rempah-rempah. Kesultanan ini menjalin hubungan diplomatik dengan Belanda, Inggris, dan Tiongkok.
Salah satu warisan penting era ini adalah Masjid Agung Palembang (sekarang Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin I) yang dibangun pada 1748. Selain itu, arsitektur rumah panggung khas Palembang dengan ukiran kayu yang indah mulai berkembang. Kesultanan Palembang bertahan hingga tahun 1825 ketika Belanda secara resmi menghapuskan kesultanan dan menguasai wilayah tersebut.
Masa Kolonial Belanda (1825-1942)
Di bawah kekuasaan Belanda, Palembang dijadikan sebagai pusat pemerintahan Keresidenan Palembang. Sungai Musi menjadi jalur transportasi utama untuk mengangkut hasil bumi seperti kopi, karet, dan minyak bumi. Belanda membangun infrastruktur seperti Pelabuhan Boom Baru, Stasiun Kereta Api Palembang, dan Jembatan Ampera (yang baru
