Wednesday, October 14, 2026
Info Tempat

Tempat Sejarah Palembang

Menelusuri Jejak Sejarah di Palembang: Kota Pempek yang Kaya Warisan

Halo, Sobat Traveler! Kalau bicara soal Palembang, pasti yang langsung kebayang adalah pempek, songket, atau jembatan Ampera yang megah. Tapi tahukah kamu kalau kota ini juga menyimpan segudang tempat bersejarah yang bikin kita serasa kembali ke masa lampau? Yuk, kita jalan-jalan santai menelusuri sudut-sudut sejarah Palembang yang penuh cerita.

Benteng Kuto Besak: Saksi Bisu Kejayaan Kesultanan

Pertama, kita mampir ke Benteng Kuto Besak atau biasa disebut BKB. Bangunan ini bukan sembarang benteng, lho. Dibangun pada abad ke-18 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I, benteng ini jadi pusat pertahanan Kesultanan Palembang Darussalam. Dindingnya yang tebal dan kokoh masih berdiri tegak hingga kini, menghadap langsung ke Sungai Musi.

Sekarang, area BKB sering dijadikan tempat nongkrong favorit warga. Sore hari, banyak yang duduk-duduk di pinggir sungai sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Kalau malam, lampu-lampu di sekitar benteng menyala cantik, bikin suasana makin romantis. Jangan lupa foto-foto, ya, karena latar benteng plus Sungai Musi bikin feed Instagram kamu makin kece!

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II: Belajar Sambil Nostalgia

Nggak jauh dari BKB, ada Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Dulunya, bangunan ini adalah rumah dinas residen Belanda. Setelah Indonesia merdeka, dijadikan museum yang menyimpan koleksi benda bersejarah Kesultanan Palembang. Di sini kamu bisa melihat singgasana sultan, senjata tradisional, pakaian kebesaran, sampai naskah kuno.

Yang menarik, museum ini punya arsitektur khas Eropa berpadu dengan sentuhan Melayu. Setiap sudutnya Instagramable abis! Tiket masuknya juga murah meriah, cuma beberapa ribu rupiah. Cocok buat kamu yang suka sejarah atau sekadar ingin menghabiskan waktu sambil belajar.

Kampung Kapitan: Jejak Tionghoa di Palembang

Pernah dengar Kampung Kapitan? Tempat ini adalah kawasan pemukiman tua masyarakat Tionghoa di Palembang, tepatnya di daerah 7 Ulu. Nama “Kapitan” diambil dari jabatan kapitan yang dulu diberikan Belanda kepada pemimpin komunitas Tionghoa. Di sini kamu bisa melihat rumah-rumah panggung khas Palembang yang sudah berusia ratusan tahun.

Yang paling ikonik adalah Rumah Kapitan, sebuah rumah panggung besar yang sekarang dijadikan museum kecil. Dari arsitekturnya, kamu bisa melihat perpaduan budaya Tionghoa, Melayu, dan Eropa. Di sekitar kampung, masih banyak juga warga yang menjalankan tradisi turun-temurun. Suasananya tenang, bikin betah jalan-jalan santai sambil membayangkan kehidupan zaman dulu.

Jembatan Ampera: Ikon yang Punya Cerita

Meskipun Jembatan Ampera lebih dikenal sebagai ikon modern Palembang, tahukah kamu kalau jembatan ini punya nilai sejarah tersendiri? Dibangun pada tahun 1962-1965, jembatan ini awalnya bernama Jembatan Bung Karno. Namun setelah pergantian rezim, namanya diubah menjadi Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat).

Dulu, bagian tengah jembatan ini bisa diangkat lho untuk melintasi kapal-kapal besar. Sayangnya, sekarang mekanisme itu sudah tidak berfungsi. Tapi tetap saja, Jembatan Ampera jadi saksi bisu perkembangan Kota Palembang. Malam hari, lampu-lampu warna-warni menghiasinya, bikin pemandangan Sungai Musi makin memesona.

Sungai Musi: Jantung Kehidupan Sejak Dulu

Nggak lengkap rasanya ngomongin Palembang tanpa menyebut Sungai Musi. Sungai ini bukan cuma urat nadi transportasi, tapi juga pusat perdagangan sejak zaman Kesultanan. Sampai sekarang, kamu masih bisa melihat kapal-kapal tradisional yang hilir mudik, dan perahu wisata yang siap membawa kamu berkeliling.

Naik perahu menyusuri Sungai Musi sambil melihat pemandangan kota dari tengah sungai itu pengalaman yang nggak boleh dilewatkan. Kamu bisa lihat betapa megahnya BKB dari kejauhan, melintas di bawah Jembatan Ampera, dan melihat kehidupan masyarakat tepian sungai yang masih kental dengan budaya Melayu.

Penutup

Palembang memang kota yang kaya akan sejarah. Dari benteng megah, museum penuh koleksi, kampung tua, hingga sungai yang menjadi saksi bisu peradaban. Semua tempat ini bisa kamu jelajahi dengan santai tanpa harus terburu-buru. Apalagi, budaya dan keramahan warga Palembang bikin perjalanan makin berkesan.

Jadi, kapan kamu mau main ke Palembang? Jangan lupa cek itinerary, siapkan kamera, dan pastikan perut kosong karena banyak pempek enak di sepanjang jalan! Selamat berpetualang!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.