Wisata Kuliner Palembang Bondan
Wisata Kuliner Palembang: Ngobras Bareng Bondan, dari Pempek hingga Pindang Patin
Halo, Sobat Kuliner! Kali ini gue ajak kalian jalan-jalan ke Palembang, kota pempek yang penuh kenangan. Gue, Bondan, bakal cerita soal pengalaman makan-makan di sini. Bukan cuma soal rasa, tapi juga suasananya yang bikin kangen. Siap-siap ngiler, ya!
Palembang itu surga bagi lidah. Kalau kalian datang, jangan lewatkan Pempek, ya jelas. Tapi jangan cuma pempek cap “Goreng” atau “Kapal Selam” doang. Coba deh mampir ke Pempek Bondan (bukan nama gue, lho, tapi emang ada warung legendaris namanya begitu!). Tempatnya sederhana di kawasan 26 Ilir, tapi antreannya panjang banget. Pempeknya kenyal, cukonya pedas manis pas. Yang bikin beda, mereka pakai ebi asli, jadi aroma udangnya terasa. Oh iya, jangan lupa minta cuko tambahan kalau kalian tahan pedas. Dijamin nagih!
Tapi jangan berhenti di pempek. Gue paling suka Tekwan, sup bola ikan dengan bihun dan jamur. Kuahnya kaldu udang, segar banget. Di Tekwan Yanti, mereka kasih taburan irisan udang kering di atasnya. Wah, bikin gurih makin nendang. Kalau lapar banget, pesan semangkuk besar, isinya tektok (bakso ikan) dan siomay. Cocok buat sarapan.
Nah, ini nih yang jarang dibahas orang: Model. Mirip pempek, tapi bentuknya seperti mie yang dikukus. Biasanya dimakan dengan kuah cuka dan taburan ebi. Gue cobain di Model H. Abdul Razak, teksturnya kenyal banget karena pakai sagu asli. Jangan lupa minta digoreng sebentar, biar ada kriuk-kriuknya.
Terus, kalau malam, mending cari Pindang Patin. Ikan patin dimasak asam pedas dengan nanas dan belimbing wuluh. Warung Pindang Patin H. A. Malik di Jalan Demang Lebar Daun jadi langganan gue. Kuahnya merah, pedasnya nampol, tapi tetap ada rasa segar. Ikan patinnya lembut tanpa duri, jadi aman buat yang malas bersihin duri. Makan pakai nasi hangat dan sambal terasi, dijamin keringetan tapi senyum-senang.
O ya, jangan lupa jajanan pasar. Lakso adalah mi sagu dengan kuah santan dan ikan. Rasanya creamy, sedikit gurih. Biasanya dijual pagi hari. Cari saja di Pasar 16 Ilir, warung Bu Ita terkenal paling enak. Atau Burgo, mirip seperti kue kuah, tapi pakai sayur dan kuah santan kuning. Nemu di sepanjang Jalan Pasaraya.
Minumannya? Jangan cuma es teh. Cobalah Es Kacang Merah atau Es Campur khas Palembang. Di Pondok Es Bu Indah, mereka pakai susu kental manis dan duren, bikin legit. Atau Es Doger, campuran es serut, tape, dan kolang-kaling. Pas buat netralin pedasnya pindang.
Serunya, banyak tempat makan buka sampai tengah malam. Kalau kalian suka street food, mampirlah ke Kawasan Benteng Kuto Besak (BKB). Malam hari, tenda-tenda bermunculan, jualan sate, pempek, dan aneka gorengan. Duduk di pinggir Sungai Musi, sambil lihat kapal lalu lalang, udah gitu makan sambil ngobrol santai. Harga juga murah meriah, cukup budget Rp 20-50 ribuan udah kenyang.
Nah, bagi yang alergi seafood, jangan khawatir. Palembang juga punya Mi Celor, mie dengan kuah udang kental tapi bisa minta tanpa udang. Atau Bubur Pedas, bubur sagu dengan rempah dan sayur, cocok buat sarapan. Rasanya ringan tapi hangat.
Tips dari gue: bawa uang tunai, karena banyak warung belum terima kartu. Juga siapin perut ekstra, karena porsinya besar. Dan jangan lupa mencicipi Kemplang, kerupuk ikan khas Palembang, bisa dibeli oleh-oleh. Yang paling terkenal adalah Kemplang Palembang Asli, teksturnya padat dan gurih.
Terakhir, jangan malu tanya ke penduduk lokal. Mereka ramah banget dan pasti kasih rekomendasi tempat yang hidden gem. Misalnya, di Gang Sehat ada Pempek Rindu yang terkenal dengan pempek adaan (bulat). Atau Pempek Ikan Belida yang mahal, tapi sepadan dengan kelezatan.
Intinya, Palembang itu bukan sekadar destinasi sejarah, tapi juga surga kuliner yang bikin kangen. Setelah nyobain sendiri, gue yakin kalian bakal balik lagi. Jadi, siap-siap napak tilas rasa, ya! Sampai jumpa di artikel selanjutnya, Sobat Kuliner!
