Thursday, July 9, 2026
Wisata Palembang

Wisata Palembang 2014

Menjelajah Palembang di Tahun 2014: Kenangan yang Manis dan Berkesan

Kalau kamu tanya gue soal liburan ke Palembang tahun 2014, pasti gue langsung tersenyum. Bukan cuma karena pempeknya yang legendaris, tapi karena suasana kota itu di tahun 2014 masih terasa sow—istilah lokal yang artinya asyik, santai, dan nggak terlalu hiruk-pikuk seperti sekarang. Saat itu, Palembang belum sepadat sekarang, dan Jembatan Ampera masih jadi ikon utama yang bikin siapa aja betah berlama-lama di bawahnya sambil ngopi atau jajan es krim keliling.

Hari Pertama: Mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II

Begitu turun dari pesawat, udara Palembang langsung menyambut dengan hangat—bahkan kadang terasa panas banget sih. Tapi itu nggak masalah. Tahun 2014, bandara ini masih terasa lega dan nggak seramai sekarang. Begitu keluar, banyak taksi dan angkot warna-warni yang siap ngantar kita ke mana aja. Tapi saran gue, kalau mau lebih nyeni, coba naik ojeg atau becak motor yang rame di depan bandara. Tarifnya murah meriah, dan lo bisa langsung ngerasain angin Palembang yang sepoi-sepoi.

Pertama Kali ke Benteng Kuto Besak

Sore hari, gue langsung meluncur ke Benteng Kuto Besak (BKB). Tempat ini kayak pusatnya kota. Di tahun 2014, area BKB masih asri, banyak taman, dan warga lokal sering ngabisin waktu di sini buat main sepeda atau sekadar duduk-duduk. Yang paling gue suka, di pinggir Sungai Musi ada banyak perahu motor yang siap bawa kita jelajah sungai. Tarifnya nggak mahal, sekitar 20-30 ribu per orang untuk setengah jam. Pemandangan Jembatan Ampera dari sungai itu juara banget. Apalagi saat matahari mulai tenggelam, lampu-lampu di jembatan mulai menyala—momennya Instagramable banget, meskipun dulu belum banyak yang post di media sosial.

Malamnya: Pempek dan Tekwan Bikin Ketagihan

Ngomongin Palembang, ya nggak lengkap tanpa pempek. Di tahun 2014, tempat favorit gue adalah Pempek Pak Raden di kawasan 26 Ilir. Tempatnya sederhana, tapi rasanya mantap. Satu porsi pempek kapal selam ukuran besar, plus cuko yang pedas manis—wah, bikin lidah bergoyang. Harganya waktu itu masih sekitar 15-20 ribu per porsi. Jangan lupa juga cobain tekwan, model, dan pindang patin. Kalau kamu suka pedas, siap-siap aja keringetan karena cuko Palembang itu beda! Ada sensasi getir dan manis yang khas.

Ke Pulau Kemaro: Mencari Harta Karun? Nggak, Cari Suasana

Salah satu hidden gem di Palembang tahun 2014 adalah Pulau Kemaro. Lokasinya di tengah Sungai Musi, bisa dicapai dengan perahu motor dari dermaga BKB. Pulau ini terkenal karena legenda Putri Dayang Merindu dan juga ada vihara yang cukup besar. Waktu gue ke sana, suasananya masih sangat alami. Banyak pohon rindang, dan kita bisa naik ke menara pandang buat lihat pemandangan sungai dari ketinggian. Jangan lupa bawa bekal, karena di pulau itu nggak banyak warung. Tapi justru itu yang bikin asyik—kita bisa piknik sederhana sambil menikmati semilir angin sungai.

Wisata Kuliner: Pindang Ikan Patin yang Legendaris

Kalau pempek sudah pasti, ada satu lagi yang wajib dicoba: pindang ikan patin. Di tahun 2014, tempat yang populer adalah Pindang Patin H. Alwi di kawasan 7 Ulu. Seporsi pindang patin dengan nasi hangat dan taburan bawang goreng bikin perut kenyang banget. Kuahnya asam pedas, dengan daging ikan yang lembut. Cocok banget untuk makan siang setelah lelah muter-muter kota. Harganya waktu itu sekitar 30-40 ribu per porsi.

Tips Berwisata ke Palembang Tahun 2014 ala Gue

Kalau kamu mau tour lokal, sebaiknya sewa mobil atau pakai taksi. Kondisi jalan di Palembang tahun 2014 masih ada yang rusak, terutama di pinggiran. Tapi nggak usah khawatir, justru dengan jalan yang agak bergelombang, serasa lebih adventure. Jangan lupa juga bawa topi atau payung karena cuacanya panas banget. Dan yang penting: selalu bawa uang tunai. Di tahun 2014, masih banyak tempat yang belum terima kartu debit.

Kesimpulan: Palembang 2014, Kota yang Ramah dan Penuh Cerita

Palembang di tahun 2014 bukan cuma soal pempek dan jembatan. Ini tentang keramahan penduduknya, tentang sore hari di pinggir Sungai Musi sambil melihat perahu-perahu lalu lalang, tentang malam-malam ngobrol di warung kopi dekat BKB. Semua itu menciptakan kenangan yang manis. Mungkin sekarang Palembang sudah berubah—lebih modern, lebih ramai. Tapi buat gue, Palembang tahun 2014 akan selalu punya tempat spesial di hati. Kalau suatu hari nanti lo punya kesempatan jalan-jalan ke sana, coba bayangin suasana waktu itu… pasti lo bakal jatuh cinta juga.

Selamat berwisata, jangan lupa bawa pulang pempek buat oleh-oleh!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.